Kelebihan Solat Dhuha

Kelebihan Solat Dhuha

Monday, 14 May 2018

Surat Maulana Said Akhmad Khan Shaheb

Surat Maulana Said Akhmad Khan Shaheb 

2 April 1986
Yang terhormat saudara Dawud Sa'ati dan teman-teman.
 Assalamualaikum Warahmatullai wabarakatuh
Gerakan ini dibangun diatas tertib yang sangat halus. Tertib tersebut sangat mudah dilaksanakan bagi orang yang ingin memperbaiki diri sendiri, namun akan sulit bagi orang2 yang hanya ingin memperbaiki orang lain saja. Adapun tertib-tertib tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jangan sekali-kali kehilangan kesabaran (marah) terhadap anggota syura, sekalipun pendapat mereka (musyawarah) tidak menyenangkan.

2. Kita jangan menolak untuk berangkat ke tempat yang telah ditetapkan (lewat Musyawarah) atau oleh amir. Meskipun demikian, kita harus membeberkan keadaan kita dihadapan amir dan Syura

3. Jangan marah kepad istri anda, orang tua anda, atau saudara anda. Selalulah bersikap sabar dan menahan diri.

4. Hendaknya selalu beranggapan bahwa usaha dan pengorbanan yang telah anda lakukan baru sediki. Jangan sekali-kali beranggapan bahwa anda telah melakukan usaha dan pengorbanan yg besar. Bahkan jangan sekali-kali terlintas dalam pikiran anda bahwa anda telah menghabiskan sebagian dari kekayaan dan hidup anda dalam usaha ini.

5. Tanamkan perasaan cinta kepada ahli ilmu (ulama) dan ahli Dzikir (Sufi), baik yang telah aktif di TAbligh atau tidak, baik mereka mendukung kerja tabligh atau menentangnya. Hadapi mereka dengan tawadhu dan kunjungi mereka untuk memohon doa mereka.

6. Jangan sekali-kali membandingkan diantara kerja Tabligh dengan ilmu atau Dzikir. ketahuilah bahwa ketiganya sama-sama penting. Meskipun demikian, tidak ada usaha lain kecuali usaha dakwah yang dapat menanamkan ilmu dan dzikir untuk seluruh umat, Inilah sebabnya kenapa Allah menurunkan dan segenap anbiya dan waliyulah sebagai da'i.

7. Hendaklah kita selalu memberi hadiah kepada ahli ilmu (ulama) dan ahli dzikir (sufi) sekalipun hadiah tersebut sederhana.

8. Usahakanlah untuk berdoa kepada Allah dengan rasa takut dan rendah hati juga diri.

9. Jangan merendahkan siapa saja meskipun orang tersebut buta huruf atau miskin. Jangan mengutamakan orang kaya atas orang miskin. Bahkan hendaknya lebih bergairah dan bergembira ketika menghadapi orang miskin.

10. Hendaknya menyebarluaskan kerja dakwah ini kepada orang-orang Islam dari berbagai kalangan dan kepada penganut berbagai mahzab. Jangan terperangkap kedalam pikiran bahwa tidak apa apa apabila hanya satu orang saja yang menentang kita. Bahkan meskipun hanya menghadapi seorang penentang, ia harus diprioritaskan. Ingatlah bahwa sebatang korek api dapat menyebabkan dunia terang benderang. Demikian pula, satu orang telah cukup menjadi penyebab fitnah.

11. Selalulah berhubungan dekat dengan orang-orang yang bekerja dengan anda, dan usahakan agar mereka juga berhubungan dekat dengan anda. Berhubungan dengan orang lain juga sangat penting, tetapi lebih penting adalah berhubungan akrab dengan teman2 sendiri.

12. Karena keadaan tertentu, dapat saja terjadi sedikit perbedaaan cara kerja antara satu tempat dengan lainnya. Tetapi perbedaaan ini jangan sampai menyebabkan pekerja dakwah di satu tempat meremehkan pekerja dakwah ditempat lain karena hal ini dapat menyebabkan tidak berhasilnya ishlah diri maup[un ishlah orang lain. Sesungguhnya, sikap suka meremehkan cara kerja orang lain dapat menyebabkan permusuhan dan dendam. Sikap tersebut juga dapat menyebabkan takabur. Akibatnya seseorang terperangkap pada teori dan bentuk dakwah tapi terjauh dari hakikatnya.

13. Setelah sampai tempat yg dituju, pertama-tama bermusyawarah dengan karkun lama yang ada ditempat yg dituju, kemudian baru memulai kerja lagi.

14. Apabila terjadi perbedaan pendapat dengan karkun setempat dan perbedaan pendapat tersebut tidak dapat dipecahkan lewat musyawarah, persoalan tersebut hendaknya dibawa ke orang tua penanggung jawab. Bagaimanapun adanya bersikaplah saling mencintai dan menyayangi. Janganlah saling menyalahkan dan saling meremehkan.

15. Orang yang paling baik adalah orang yang mampu menjaga kesatuan hati dengan cara menunjukan akhlak yg mulia dan bijaksana demi untuk tercapainya tujuan.

16. Orang yang paling baik selanjutnya adalah orang yang menjaga kesatuan hati dan menjaga hubungan akrab dengan siapa saja. Kedua hal ini (Nomer 15 dan 16) hanya dapat dicapai oleh orang2 yang tawadhu'

17. Usaha kita adalah usaha yang luwes. Sehingga kita berada dalam posisi untuk menyatukan setiap orang. Syaitan senantiasa berusaha untuk menanamkan benih-benih permusuhan, terutama diantara karkun lama. Demi untuk mencapai tujuannya, ia berdalih memegang tertib. Dengan kata lain mereka bertentagan atas tertib dakwah. Padahal tertib yang paling utama ialah satu hati, apabila tidak ada kesatuan hati maka tertib lainnya tidak dapat diwujudkan.

18. Melanggar tertib yang paling parah adalah perpecahan. Orang yang bijaksana adalah orang yang lalai untuk Ishlah diri, sehingga ia terperangkap dalam jebakan syaitandan hawa nafsunya dan ia tidak mencintai dunia.

19. Orang yang paling mulia adalah orang yang berbuat baik kepada semua orang, baik mereka yang mendukung atau yang menentang. baik mereka teman atau lawan, baik mereka kaya atau miskin.

20. Orang yang pandai adalah orang yang mampu menyesuaikan dengan tuntutan keadaan. Dengan kata lain ia adalah orang yang dapat memanfaatkan keadaaan dan memiliki kemampuan untuk membaca keadaan orang lain. Juga ia memiliki Ke Ikhlasan dan hanya mencari Ridha Allah

21. Kita semua adalah orang baru (dalam usaha ini). Orang lama adalah orang yang tetap istiqomah dalam menjalankan usaha sampai mati, baik orang-orang menghormatinya atau tidak. baik orang-orang menganggap dirinya atau tidak, baik orang-orang menganggap dirinya baik atau jelek. Sekalipun para penanggung jawab atas usaha ini berpikiran buruk kepada mereka, namun ia tidak membalasnya dengan berpikiran buruk terhadap mereka. Sekalipun setiap orang meninggalkan dirinya, ia tidak mau membalasnya, tetapi ai berkata, "Saya tidak mau meninggalkan anda meskipun anda meninggalkan saya".

22. Dakwah ini merupakan sifat para Nabi as. Untuk itu janganlah menjalankan dakwah hanya karena orang tua yang menjalankannya, karena mereka meminta anda untuk melakukannya, tapi lakukanlah karena kerja dakwah ini dicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. dan karena kerja ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW.

23. Hendaklah selalu merenungkan ayat-ayat dan kisah-kisah dalam al Qur'an dan Hadist, dan camkanlah bahwa usaha dakwah ini sangat penting juga merupakan kewajiban bagi setiap orang (Fardhu ain)

24. Berdoalah kepada Allah SWT. agar Dia menampakan hakikat Usaha ini. Orang yang telah mengenal hakikat usaha ini, maka ia dianggap orang lama dalam usaha ini, baik ia fasih dalam menyampaikan bayan atau tidak baik ia buta huruf ataupun berpendidikan.
Wassalam

Maulana In’amul Hassan

Suhbat Bersama Maulana Inamul Hassan Kandahlawi rah.

Seewaktu kuliah Syeikh Nuruddin Al-Banjari Al-Makki pada Ramadhon yang lalu, beliau ada menyentuh mengenai kemulian Maulana Inamul Hassan rah (Amir ketiga Jemaah Tabligh). Antaranya beliau berkata bahawa Maulana Inamul Hassan ini adalah termasuk seorang yang sentiasa berzikir sehingga zikir harian beliau mencecah 70,000 sehari semalam. Juga kata beliau bahawa sewaktu beliau dilantik menjadi syura (kata Syeikh yang bermaksud Amir /Hadrat ji Jemaah Tabligh) orang yang memutuskan siapakah yang akan menjadi amir ketika itu ( Maulana Zakaria rah) memerintahkan setiap orang yang ada di dalam majlis berkenaan keluar melainkan dia yang pernah melihat malaikat. Akhirnya semua keluar yang tinggal hanyalah Maulana Inanamul Hassan rah. Beliau menangis terisak-isak kerana rahsia beliau selama ini telah terbocor. Kisah ini beliau mendengar dari Syeikh Abdul Wahab, Amir Pakistan. (Mungkin ketika beliau hadir di Ijtimak Indonesia baru-baru ini)

Maulana Inamul Hassan, Amir kedua Jemaah Tabligh ini adalah seorang yang sangat alim khusus di dalam bidang hadis.Beliau mempelajari ilmu agama dari beberapa orang ulama terkenal di India juga khusus dari ulama di kalangan keluarga sendiri. Beliau termasuk seorang ulama besar India yang oleh Syeikhul Hind (Maulana Mahmudul Hasan rah) dijuluki sebagai “Gudang Mufti” Beliau juga termasuk salah seorang guru kepada Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, Makkah (AlIqdul Farid: 16).

Sebenarnya amir-amir Jemaah Tabligh, kesemua mereka adalah dari keturunan Abu Bakar r.a yang silsilah keturunan mereka ini dijagai sehingga sekarang. Kalau kita membaca biography keturunan mereka, kita akan dapati bahawa perkahwinan mereka adalah di dalam lingkungan keluarga terdekat demi menjaga silsilah keturunan tersebut.

Seperti mana kita bertanya kepada orang-orang keturunan India yang lahir dan tinggal di Malaysia, “Kamu orang mana?”. Pasti dia akan menjawab,”Saya orang Malaysia.” Yang sebetulnya dia orang Malaysia tetapi keturunan India. Begitu juga dengan keluarga amir-amir Jemaah Tabligh ini, mereka adalah orang India tetapi berketurunan Arab dari rumpun Abu Bakar r.a.

Pada tahun 1991, aku diberi kesempatan mengerjakan haji dan pada tahun yang sama ramai elders dari India, Pakistan dan Bangladesh ikut mengerjakan haji. Maulana Inamul Hassan juga datang mengerjakan haji beserta dengan beberapa orang dari Markaz Nizamuddin India. Ketika berada di Madinah, kami beberapa kali dijemput untuk mendengar nasihat dari ulama-ulama ini. Sewaktu berada di sebelah kiri kuburan Nabi saw, aku dapati Maulana Inanul Hassan di tolak masuk di atas kerusi roda dari pintu Bab Al-Nisak yang sememangnya dibuka untuk semua jemaah masuk. Ketika di tolak masuk ke dalam Masjid oleh pembantu beliau, aku dapati semua ahli jemaah mengelak memberi laluan kepada beliau. Wajah beliau yang begitu berseri-seri menjadi tarikan ribuan jemaah dari berbagai negara ketika itu. Mereka berebut-rebut untuk bersalaman dengan beliau namun dilarang berbuat demikian disebabkan kesihatan beliau yang tidak mengizinkan.

Setelah memberi salam kepada Rasulullah di kuburan, beliau akan bersolat sunat dan duduk beberapa lama menunggu solat. Kami mengambil kesempatan untuk berada bersama-sama beliau. Beberapa orang-orang Arab yang tidak mengenali beliau bertanya kepada aku siapakah syeikh berkenaan. Aku memberitahu mereka bahawa beliau adalah seorang ulama dari India. Biasalah tidak ramai orang mengenali ulama-ulama Jemaah Tabligh kerana Jemaah ini tidak ada akhbar, pamplet ,Brochures dan lain-lain. Selain itu mereka-mereka ini tidak dijemput untuk menghadiri sebarang seminar melainkan Maulana Abul Hassan Ali Nadwi rah.

Sewaktu Ijtimak Raivind, Pakistan, Maulana Inamul Hassan hadir pada hari akhir untuk berdoa. Ramai saudara-saudara Arab tidak pernah melihat dan mendekati beliau. Mereka hanya biasa dengan ulama-ulama di Markaz Raivind di Pakistan sahaja. Namun apabila mereka terpandang sahaja Maulana Inamul Hassan mereka seperti separuh gila. Apa tidaknya wajah beliau begitu bercahaya menjadi tarikan sesiapa sahaja yang melihat beliau. Betul-betul dihadapan aku beberapa orang saudara dari Negara Arab ini seperti separuh gila cuba meluru mendapatkan Maulana namun mereka dihalangan oleh petugas sekuriti sambil mententeramkan keadaan.

Setelah Maulana menaiki kenderaan, ada yang cuba bergayut pada kenderaan tersebut. Begini keadaan gelagat mereka di kalangan saudara Arab yang tidak pernah melihat maulana dengan wajah yang begitu bercahaya. Ada seorang ahli jemaah dari U.S yang datang ke Markas Nizamuddin, India. Beliau seorang yang berkulit hitam dengan badan sasa yang cukup cekap di dalam seni mempertahankan diri, menceritakan, “ Aku tak pernah takut dengan sesiapa pun walaupun ia lebih besar dari aku. Pasti aku akan lawan. Namun setelah aku melihat Maulana Inamul Hassan, wallahi! aku terkencing.” Cerita beliau ketika waktu rehat di Markaz Nizamuddin, India. Bayangkanlah bagaimana kehebatan sahabat-sahabat Nabi khususnya Umar r.a yang menjadi ketakutan pada musuh hanya sekadar mendengar nama sahaja.

Pada tahun 1992 aku diizinkan tuhan untuk keluar lagi di India. Pada cillah (40 hari ke tiga) akhir, aku terkepung di Markaz Nizamuddin disebabkan Delhi diistiharkan curfew selama seminggu. Ianya adalah kerana Masjid Babri di Ayodoya diruntuhkan oleh fanatik-fanatik Hindu. Kebiasaanya sesaorang itu akan berada hanya 3 hari sahaja dan akan dihantar keluar di route yang diputuskan. Namun disebabkan curfew, maka kami tinggal hampir seminggu di Markaz Nizamuddin.

Ketika ini aku dan teman aku yang sedang belajar di Shaharanpur juga ikut terkepung. kami mengambil kesempatan ini untuk berada bersama Maulana Inamul Hassan setiap hari selepas solat Asar untuk duduk berzikir bersama beliau. Belum pernah aku merasai kelazatan berzikir sepanjang hidup aku sehingga kini melainkan ketika berzikir bersama beliau. Sedangkan ketika itu aku hanya berzikir dengan zikir biasa sahaja iaitu tasbih, selawat dan istighfar, namun ianya terasa begitu khusyuk sekali. Mungkin kerana aku berada bersama beliau serta kesan zikir beliau tertempias kepada aku. Ini sebagaimana yang telah diterangkan oleh Maulana Zakaria rah di dalam kitab beliau Fadhilat Zikir yang mana terkadang-kadang kesan zikir dari sesaorang yang dekat dengan Allah akan memberi kesan kepada sesiapa sahaja yang berada berdekatan beliau.

Aku melihat beliau sentiasa berzikir dengan mulut beliau berkumat- kamit. Beliau tidak memegang sebarang biji tasbih namun kedua-dua belah tangan kanan dan kiri digunakan untuk berzikir. Ibu jari dan jari telunjuk akan sentiasa bergerak-gerak seperti kita mengira biji tasbih. Jika sesiapa yang datang menjumpai beliau beliau akan melayani namun jari-jari tangan tadi tetap akan bergerak. Sepanjang kami berzikir di dalam bilik Maulana Inamul Hassan tidak ada orang lain hanya aku, teman aku dan satu dua lagi maulana yang aku tidak kenali. Di hujung-hujung masa iaitu sekitar 5,6 hari barulah waktu curfew itu ditarik balek oleh pemerintah. Aku lihat ramai tetamu yang datang dari jauh dan bertemu dengan Maulana. Rupanya waktu itu adalah waktu mesyuarat syura-syura seluroh India, Pakistan dan juga Bangladesh. Kami mengambil menafaat dari mesyuarat berkenaan untuk mendengar nasihat dari beberapa elders yang datang. Ini termasuklah nasihat dari Maulana Inamul Hassan sendiri.Nasihat dari Maulana Umar Palampuri, Maulana Said Ahmad Khan dan juga Haji Abd Wahab. Kesemua nasihat mereka cukup memberi kesan kepada kami.
Aku dan teman penah bertanya kepada Maulana Mustaqim sewaktu makan bersama beliau di Markaz Raivind, Pakistan, “Mengapa kulit Maulana Inamul Hassan putih begitu? Jawab beliau, “ Maulana Inamul Hassan terkena serpihan sihir. Kata Maulana Mustaqim lagi, “ Kulit Maulana yang sebenar hanya kamu boleh lihat sewaktu beliau memejamkan mata iaitu kulit di atas kelopak matanya sahaja warna kulit asal beliau.” Tambahnya lagi,” Jika beliau lalai sahaja dari berzikir pasti beliau akan terkena sihir yang dihantar oleh gulongan Hindu dan juga gulongan “Brelwey” (Grave worshipper).
Mungkin ada orang berkata bahawa aku terlalu fanatik dengan Maulana Inamul Hassanh namun aku berani bersumpah bahwa aku tidak berani menatap mata beliau. Kalau beliau memandang kepada aku pasti aku akan menundukan mata aku ke bawah. Apabila beliau melihat ketempat lain barulah aku akan menatap wajah beliau. Ini adalah kerana kehebatan yang ada pada beliau serta wajahnya yang cukup bercahaya. Saat paling aku merasa takut adalah saat seorang India tiba-tiba datang meluru kepada beliau. Entah macam mana orang India ini boleh lepas tiga kawalan sekuriti. Beliau tiba-tiba menengking lalu orang India itu lari keluar dengan ketakutan. Kata kawan aku ramai orang India yang cuba loloskan diri masuk khususnya yang berfahaman brelwey yang kekadang untuk melepaskan sihir.

Pengalaman suhbat bersama beliau benar-benar memberi kesan yang mendalam di dalam jiwa aku yang cukup sukar untuk dilupakan. Apa lagi ketika itu berpeluang berbaiat dengan beliau. Isteri aku yang keluar masturat pada tahun 1990 juga berpeluang tinggal di rumah isteri beliau untuk selama 3 hari. Wanita ketika itu juga berpeluang bebaiat dengan beliau. Ianya juga memberi kesan yang mendalam di dalam jiwa.

P/s : Bukanlah maksud aku untuk menggangkat elders Jemaah Tabligh atau bersikap ghulu terhadap Maulana Jemaah Tabligh. Namun apabila Syeikh Nuruddin Al-Banjari Al-Makki menceritakan demikian maka aku terpanggil untuk meceritakan juga pengalaman yang aku pernah tempuhi.

Mimpi Seikh Abd Rahman Sudais

Image result for dakwah maksud hidup

1. Karkuzari Jemaah Khuruj

Satu jemaah di dalam perjalanan khuruj ke United Kingdom, pesawat berhenti (sementara) di lapangan terbang Moscow, Rusia. Seorang daripada kami diputuskan untuk melaungkan azan dan seorang lagi menjadi imam setelah kami bermesyuarat. Selepas menyempurnakan solat, kami melihat Imam Masjidil Haram, Sheikh Abdur Rahman as Sudais turut bersama-sama kami di dalam solat itu.
 Sheikh telah meletakkan tangannya di bahu kami dan berkata, "Antum min Jama'atid Da'wah?" (Adakah anda semua daripada jemaah da'wah?') Kami menjawab, "Alhamdulillah, kami sedang berada di jalan Allah, dan kami berhenti di sini buat sementara waktu (transit ke UK)."
Sheikh senyum kepada kami dan berdoa dan berkata; "Di dalam dunia ini yang penuh dengan kemungkaran, tiada jemaah yang dilihat membawa kebaikan seperti kamu semua lakukan."
Allah Swt telah memberi Sheikh kecintaan kepada kami, sehingga beliau telah memberi kad nama beliau kepada kami dan berkata, "Bila-bila sahaja kamu datang ke Mekah untuk Haji, umrah atau apa sahaja, temuilah saya."
Selepas beberapa lama daripada peristiwa itu, beberapa orang daripada jemaah itu pergi ke Mekah. Mereka hendak berjumpa dengan Sheikh tetapi pengawal keselamatan telah menghalang mereka. Namun, selepas menunjukkan kad yang diberi oleh Sheikh, mereka membenarkan jemaah itu berjumpa dengan Sheikh.
Sheikh Abdur Rahman as Sudais memeluk mereka dan mengalu-alukan ketibaan jemaah itu, dan memperkenalkan jemaah dengan ulama-ulama besar di sana dan berkata, "Kami adalah Imam-Imam bagi dunia ini dan mereka (jemaah itu) adalah Imam kami, kami pernah bersolat di belakang mereka."
  
2. Karkuzari Mimpi

Pada suatu malam, Sheikh Abdur Rahman Sudais, Imam Masjidil Haram melihat Rasulullah s.a.w di dalam mimpinya. Di dalam mimpinya itu, satu jenazah sedang diangkat dan Rasulullah s.a.w sedang menunggu jenazah itu. Sheikh Sudais bertanya jenazah siapakah itu, dan Rasulullah s.a.w berkata kepadanya bahawa jenazah itu adalah jenazah Umar Palampuri daripada al-Hind (benua India).
Selepas bangkit daripada tidurnya, Sheikh Sudais mencari-cari siapakah Umar Palampuri dan mendapat tahu bahawa Umar Palampuri adalah seorang Maulana besar di dalam Jemaah Tabligh dan baru sahaja meninggal dunia. Kemudian, beliau menulis satu surat takziah kepada anak Maulana Umar Palampuri, Maulana Yunus, di mana beliau telah meriwayatkan mimpi beliau itu.
 Maulana Yunus Palampuri kemudiannya telah membaca surat daripada Sheikh Sudais kepada saudara-saudara Arab yang berada di perhimpunan di Nizamuddin, Delhi. Salah seorang daripada saudara Arab yang hadir di perhimpunan itu meriwayatkan kisah ini kepada bapa saya, dan daripada saya kini telah sampai kepada kamu sekalian.

Kisah Hadraji buat amalan Khidmat

Kisah Hadraji rah ketika buat amalan Khidmat di markaz Nizzamuddin


Dahulu di Pusat Markaz Tabligh dunia di Nizzamuddin pada malam hari terlihat kotor sekali akan tetapi ketika para jamaah bangun di pagi hari terlihat markaz sudah bersih mereka bingung siapa yang membersihkan Ketika suatu saat mereka ingin mengetahui siapakah yang membersihkannya, beberapa orang mencoba ingin memata matainnya Ketika mereka liat 2 orang sosok lelaki yang sedang membersihkan kamar mandi, ketika mereka liat kedua sosok ini begitu semangat kedua orang tersebut menganggakat kotoran najis yang sudah di letakkan di ember kemudian di angkat dan di letakkan di kepala mereka tanpa mereka sadari kotoran najis tersebut mengalir ke wajah mereka
Allahu Ya Karim Alangkah terkejutnya mereka Ternyata kedua sosok itu adalah Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy Rah dan Maulana Yusuf Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy Rah
Asbab mereka buat Khidmat ini hidayah ALLAH SWT untuk Umat Seluruh Alam ... Mereka Sanggup bermujahadah semata mata untuk agama tersebar ke seluruh dunia
Akar penunjang dari kerja dakwah adalah khidmat. Kefahaman kerja dakwah akan di peroleh dari bermujahadah di dalam melakukan khidmat
Allahu Akbar ... Kisah ini terdapat dalam buku : 1000 Kisah Hadradji (rah) karangan Maulvi SS. Muhammad Syeikh Abdullah Bin Muhammad Hafifa

Kalkuzari Maulana Yusuf Rah.A.


Image result for dakwah maksud hidup



Ada seorang ahli dakwah datang ke Maulana Yusuf Rah.A. Dia mengatakan, “Wahai Maulana, saya sudah keluar 4 bulan, amal maqomi juga sudah saya jalankan, alhamdullillah tiap tahun saya keluar, tetapi kenapa perasaan saya ini keikhlasan belum masuk ke hati saya.” Ini kerisauan orang tersebut. Apa nasehat Maulana Yusuf Rah.A, “Engkau teruskan dakwah, terus dan terus, sampai kamu bertemu dengan si abdurrahman.” Si orang ini bingung siapa ini si abdurrahman. Akhirnya Maulana Yusuf ceritakan siapa si abdurrahman. Jadi si Abdurrahman ini adalah seorang pemuda kampung yang miskin, hidupnya sebagai kuli tani, bekerja di ladang orang untuk mendapatkan upah. Si Abdurrahman ini mempunyai cita-cita belajar agama di pesantren untuk paham agama. Suatu ketika dia mendengar ada pesantren yang terkenal di suatu kampung. Maka dia niat untuk masuk ke pesantren tersebut belajar dari ulama yang kononnya terkenal dengan kealimannya.

Mulailah si Abdurrahman menabung dari hasil upahnya untuk dapat masuk ke pesantren. Singkat cerita akhirnya uangnya terkumpul dari hasil jerih payahnya. Berangkatlah si abdurrahman ke pesantren tersebut untuk mencari ulama yang dia sering dengar untuk dapat belajar dari dia. Setelah sampai di kampung tempat pesantren tersebut, akhirnya dia baru tahu ternyata ulama yang dia cari ternyata udah meninggal. Mendengar hal tersebut sedihlah si abdurrahman, karena sudah sekian lama dia menabung untuk belajar dengan ulama tersebut ternyata setelah datang si kyai sudah meninggal. Si Abdurrahman akhirnya terpikir, biasanya satu pesantren ini kalau kyainya meninggal pasti ada anaknya atau anggota keluarga lainnya yang sama alimnya yang menggantikan posisi kyai tersebut dalam mengajar. Si Abdurrahman mulai bertanya ke penduduk apakah ada pengganti ulama tersebut. Penduduk kampung bilang yang melanjutkan memimpin pondok pesantren itu adalah anaknya si kyai tersebut. Singkat cerita pergila si abdurrahman ini kerumah anak si ulama tersebut.
Sampai di tempat anak si ulama tersebut, memang dasar si abdurrahman ini mempunya hati yang bersih maka dia selalu menjaga prasangka baik kepada si anak ulama tersebut karena kesungguhannya ingin belajar. Abdurrahman ini mempunyai keyakinan kalau bapaknya ini ulama sholeh pasti anaknya juga seorang alim yang sholeh juga. Padahal si anak ulama ini ternyata tidak seperti bapaknya yang alim dan sholeh. Si anak ulama ini ternyata seorang bergajulan, tidak sholat, pemabok, penjudi, dan kerjakan banyak maksiat. Namun si abdurrahman tidak tahu, dia hanya tau kalau si anak kyai ini pasti orang yang sholeh dan alim juga seperti bapaknya, dan dia datang ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Pada waktu datang ke rumah si anak kyai itu kebetulan si anak kyai ini mempunyai pembantu namanya juga si abdurrahman, yang saat itu sedang pergi beli sesuatu di luar.

Jadi waktu si abdurahman ini mengetuk pintu dan mengucapkan salam, si anak kyai ini rupanya sedang kesal rupanya. Baru masuk rumah si anak kyai ini langsung memarahi si abdurahman, disangkanya yang datang ini adalah pembantunya. Si anak kyai ini marah dan berkata, “Kemana saja kamu Abdurrahman, saya sudah menunggu dari tadi ?” mendengar hal ini si abdurahman terkejut, wah dia terpikir anak kyai ini sungguh kasyaf, saya belum datang dan belum mengutarakan maksud saja dia sudah menunggu saya. Makin yakin saja si abdurrahman untuk belajar kepada anak kyai ini. Waktu dia buka pintu dan menongolkan muka, baru nampaklah muka si abdurahman, maka terkejutlah anak si kyai ini ternyata bukan pembantunya. Maka ditanyalah nama, darimana, dan maksud kedatangan si abdurrahman ini oleh si anak kyai ini. Si Abdurrahman mengutarakan bahwa dia ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Mendengar hal ini si anak kyai bingung, dia bilang ke abdurrahman bahwa dirinya ini bukan kyai. Mendengar hal ini si abdurrahman merasa bahwa anak kyai ini Masya Allah sungguh tawadhu. Bagi si Abdurrahman anak kyai ini seorang kyai yang yang tawadhu tidak mau menunjukkan keulamaannya, maka semakin yakin dia mau belajar kepada si anak kyai ini. Si abdurrahman berkata, “Bagaimanapun juga saya mau nyantri di pesantren, belajar kepada kyai.” Si anak Kyai mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ngajar. Masya Allah di hati si abdurrahman bahwa tawadhu sekali ini seorang ulama mengaku tidak mampu ngajar. Di satu sisi si abdurrahman memaksa untuk belajar, disatu sisi si anak kyai menolak karena dia tidak bisa ngajar.

Melihat keadaan ini si anak kyai ini yakin bahwa si abdurrahman ini seorang pemuda kampung yang bodoh, sehingga timbullah pikiran jahat untuk menjahili si abdurrahman. Si anak kyai ini bertanya kepada Abdurrahman, “Apa kerja kamu ?” abdurrahman menjelaskan bahwa dia bekerja sebagai kuli ladang di kampungnya. Si anak kyai itu berkata, “Bagus, saya punya ladang disana, kamu balik ke kampung kamu lalu kamu tanami ladang saya, kalau kamu mau belajar sama saya, kamu kerja disana nanti 10 tahun lagi kamu balik kemari untuk belajar agama.” Si Abdurrahman ini hatinya bersih dan karena dia sungguh-sungguh ingin belajar agama, dia setujui persyaratan anak kyai tadi. Pergilah si Abdurrahman ini balik ke kampungnya di gunung untuk menjadi kuli ladang kembali menggarap ladang si anak kyai tadi juga. Dia kembali bekerja dengan niat untuk belajar agama disanalah dia bermujahaddah. Dia terus bekerja disana tanpa mempelajari satu alifpun.

Allah Swt Maha Adil dan Maha mengetahui kesucian dan kebersihan niat si Abdurrahman ini. Persis 10 tahun dia bekerja ada seorang ulama besar meninggal dunia di masa itu. Allah Swt dengan QudratNya memindahkan ilmu agama dan pemahaman agama si Ulama tersebut kepada si Abdurrahman tanpa perantara guru. Asbab ini dengan serta merta jadi alim, si abdurrahman pikirannya terbuka dan pemahamannya bertambah. Bagaimana prasangka Abdurrahman saat ini mengalami kejadian yang demikian ? si Abdurrahman berpikir, “Masya Allah guru saya ini luar biasa, dia mengajarkan agama kepada saya dari jarak jauh.” Begitulah sikap abdurrahman memuji kepada gurunya karena sudah mengajarinya agama dari jarak jauh. Akhirnya si Abdurrahman turun dari gunung pergi mengunjungi si anak kyai untuk berterima kasih. Si anak kyai bertanya, “Bagaimana kabar kamu ?” si Abdurrahman menjawab, “Alhamdullillah berkat ajaran pak kyai dari jarak jauh, kini saya sudah jadi alim, paham mengenai banyak hal tentang agama.” Si anak kyai ini tidak percaya, masa hanya dengan bertani sesorang bisa berubah jadi alim. Melihat hal ini karena penasaran si abdurrahman diajak keliling oleh anak kyai ini untuk bertemu ulama-ulama agar bisa membuktikan perkataan abdurrahman ini. Terkejut si anak kyai ini ternyata setelah di test memang betul bahwa si abdurrahman ini alim.

Asbab si Abdurrahman, Allah berikan si anak kyai ini hidayah, bertaubat, lalu menyantri dengan si abdurrahman ini. Ini adalah kisah nyata yang diceritakan oleh masyeikh kita. Disini ada pelajaran yang bisa kita ambil :

1. Niat ikhlas 2. Mujahaddah 3. Sangka Baik 4. Asbab Hidayah

Begitu kita di dalam kerja dakwah ini, kita terus dakwah walaupun dengan segala kelemahan kita, sampai kita ketemu orang seperti si Abdurrahman ini. Berkah dari orang seperti ini akan kita dapatkan asbab kerja dakwah ini. Ini adalah contoh bagaimana Allah akan berikan kepahaman kepada kita kalau kita mau bersusah payah dalam memperjuangkan agama ini. Tidak ada sejarahnya orang dapat pemahaman agama hanya dengan santai-santai dan senang-senang. Kepahaman agama hanya Allah berikan kepada orang yang mau mujahaddah memperjuangkan agama. Sehingga tidak salah langkah dalam agama. Hari ini agama hanya ditafsirkan menurut akal pikiran dan nafsu kita masing-masing karena telah ditinggalkannya mujahaddah. Sehingga mengamalkan agama menurut hawa nafsu, menurut pikiran kita saja, bukannya mengikuti daripada yang di contohkan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat RA.

Kita keluar di jalan Allah ini bukan hal yang baru, ini merupakan syarat untuk memahami agama, dengan cara bersusah payah dijalan Allah. Asbab kita tinggalkan mujahadah sehingga hari ini ummat mudah terbawa daripada keinginan-keinginan dari orang kafir agar hidup ini senang-senang dan mewah-mewah. Sementara untuk agama tumbuh subur kita harus bisa zuhud terhada dunia bukannya mewah-mewah. Oleh karena itu kita semua harus siap untuk bermujahaddah di jalan Allah agar Allah beri kepahaman agama kepada kita. Kita keluar dijalan Allah kita belajar zuhud terhadap dunia, bawa pakaian seadanya, masak sendiri nyuci sendiri, kadang-kadang kepanasan, kadang-kadang kedinginan, tidur dilantai, banyak nyamuk dan lain-lain. Ini adalah faktor-faktor yang membuat datangnya hidayah yaitu dengan mujahaddah. Sementara kalau kita dirumah kita dapat kenyamanan makanan disediakan, baju ada yang nyuci, tidur dikasur, sehingga agama susah masuk kalau kita dirumah saja. Asbab kenyamanan di rumah ini membuat kita tidak paham agama, karena mata hati kita tidak terbuka.

Untuk kepahaman atas Al Quran dan Hadits itu membutuhkan sifat Mujahaddah. Jangan pernah merasa cukup mempelajari Al Quran dan Hadits karena kedalamannya sangat luas,agama itu luas, dibutuhkan mujahaddah yang terus menerus untuk memahaminya. Walaupun kita sudah mengamalkan agama tetap akan masih kurang. Maka acuan kita bukanlah pada orang jaman sekarang dalam pengamalan dan pemahaman tetapi Rasullullah SAW dan para Sahabat RA. Dibanding rasullullah SAW dan para sahabat pengamalan kita dan pemahaman agama kita sangat jauh sekali dibanding mereka.

Inilah mengapa kita harus merintis pengorbanan kita agar seperti mereka. Bagaimana ketaatan kita seperti mereka. Untuk itulah kita lagi dan lagi bermujahaddah. Inilah yang perlu kita pahamkan kepada ummat bahwa didalam untuk memahami agama ini penting untuk bersusah payah dijalan Allah Swt. Hari ini ada pemikiran di masyarakat bahwa untuk apa susah-susah dakwah ke kampung-kampung, padahal hari ini ada TV, ada Internet, ada Handphone, ada Radio, lebih luas cakupannya dan lebih banyak penggunanya sehingga point-point dakwah bisa disebar melalui media itu. Padahal kalau kita perhatikan para sahabat dulu mujahaddah berdakwah ke yaman, lalu orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Lalu para sahabat mujahaddah berdakwah ke maghribi, lalu ramai-ramai orang-orang berbondong bondong masuk islam. Masuk ke mesir, ramai-ramai orang-orang masuk islam. Masuk ke Aljazair, ramai-ramai orang masuk islam. Padahal dulu belum ada handphone, televisi, radio, ataupun internet, namun asbab ada mujahaddah para sahabat RA dalam berdakwah orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Sekarang dengan alat-alat modern ini adakah kita dengar orang-orang suatu negeri berbondong-bondong masuk islam ? jawabnya tidak. Jadi terbukanya mata hati bukan lah karena hal-hal seperti itu. Kalaulah memang tv, radio, Handphone, dan radio memang bisa memajukan agama pastilah sudah diberikan kepada Rasullullah SAW oleh Allah Swt. Ini karena Allah Swt berfirman :

“Al yauma akmaltu lakum dinnakum…” Artinya : Hari ini telah sempurna Agama

Tidak memerlukan lagi cara yang seperti itu, cara yang dibawa oleh Nabi SAW adalah cara yang sudah sempurna, tinggal mengikuti saja, jangan pakai akal-akalan kita. Kita tidak menafikan kalau orang mau memakai itu silahkan saja tetapi cara Mujahaddah ini jangan ditinggalkan. Kita akan tambah jauh dari agama jika kita tinggalkan cara Nabi SAW. Sehingga sesam islam sekarang mudah di adu domba, dibenturkan, satu sama lain, sampai terjadi perang sesama islam. Ini karena mereka tidak paham sama agama. Andaikata kita paham dengan agama akan timbul kasih sayang, cintai mencintai, rukun, dan satu hati itu akan terjadi.

Kita belum paham agama karena kita kurang bermujahaddah. Dalam beramal ini, Allah akan bukakan mata hati sejauh mana kita bermujahaddah. Kata para ulama kalau kita beramal akan mendapatkan pahala, tetapi kalau dengan bermujahaddah maka akan mendapatkan hidayah. Contoh kalau kita berwudhu ini akan mendapatkan pahala, tetapi kalau kita berwudhu ditempat yang dingin, dalam keadaan ngantuk, dan lain-lain, selain dapat pahala kita akan dapat hidayah. Kita di Indonesia ini puasa tidak terlalu berat, apalagi di Eropa dimusim dingin, siangnya lebih pendek, lebih enak lagi puasanya. Berbeda kalau kita puasa di negeri arab panasnya luar biasa, siangnya lebih panjang, sedikit-sedikit haus. Kita ini kalau hanya di indonesia saja tidak akan mengalami mujahadahnya beramal di negeri orang. Jika kita mengalamin bermujahaddah di negeri mereka ketika musim panas dan musim dingin, maka hidayah akan datang kepada kita. Kita lihat saudara-saudara kita yang bermujahaddah, iman mereka kuat. Sehingga walaupun ditengah-tengah kemaksiatan, Allah berikan kekuatan untuk mengamalkan agama.

Saya lihat waktu kami ke spanyol, saya lihat orang-orang islam dari marokko, maghribi. Di Marokko Quran ini sudah membudaya. Ketika kami ke morokko kami lihat setiap bada maghrib dan bada subuh seluruh mesjid membaca al quran bersama secara berurutan. Setiap hari membaca 1 juz bersama-sama sehingga dalam 1 bulan mereka sudah biasa mengkhatamkan Al Quran. Ketika kami berjaulah baru kami baca ayat pendek mereka yang meneruskan bacaannya anak-anak muda sudah hafal Quran, banyak sekali kami temui di spanyol. Di bulan puasa biasa bagi mereka terawih baca 1 juz. Semangat Ibadah mereka sangat tinggi, ini di negeri kafir, bagaimana dengan kita disini yang kononnya muslim terbesar. Di negeri kafir penuh dengan kemaksiatan, mereka bisa sholat terawih bacaan Qurannya 1 juz. Ketika kami di Barcelona di markaz tabligh yang konon baru dibangun tahun 1987 agama berkembang pesat. Padahal dulunya kalau orang muslim mengucapkan salam saja bisa marah orang karena merasa panggilan kampungan begitu. Namun asbab ada kerja dakwah kini di Barcelona sholat dzuhur saja ramainya sama seperti sholat jumat. Sebelum tabligh datang, dulu orang-orang Maroko di Barcelona tidak sholat, namun asbab tabligh alhamdullillah, dikota maksiat orang-orang tetap menjaga sholat berjamaahnya. Walaupun kita sedang jaulah orang-orang di bar di tempat-tempat ngopi tapi ketika kita datangin waktu jaulah mereka mendengarkan dengan baik.
Kalau di Spanyol ini banyaknya orang Marokko, lain lagi di Portugal orang islam banyaknya orang Afrika dari Mozzambiek. Mereka membangun mesjid besar dan megah, setiap malam mereka menjamu orang buka dan makan malam sekitar 400 orang setiap harinya. Luar biasa semangat mereka dalam beribadah dan bersedekah. Bahkan kita kira pemerintah mereka yang kononnya tidak menyukai islam, pemerintahan kafir, ternyata mereka justru senang dengan orang islam, bahkan ikut nyumbang dalam membangun mesjid. Hubungan mereka orang islam dengan pemerintah ternyata baik ini karena akhlaqnya bagus, tidak membuat kekacauan sehingga pemerintah sana senang. Disana, Portugal, pemerintahnya memberikan banyak kemudahan-kemudahan dalam menjalankan usaha dakwah. Ini karena mereka melihat orang-orang yang ada salam usaha dakwah ini orangnya baik-baik tidak menganggu politik ataupun yang lainnya, umum jalankan usaha agama saja. Demikian asbab bermujahaddah dijalan Allah sehingga Allah bukakan kemudahan-kemudahan dalam usaha dakwah ini.

Lain lagi di perancis, Jaulah kedua lebih banyak dibanding dari jaulah pertama, beda dengan di Indonesia yang jaulah pertamanya lebih banyak dibanding jaulah keduanya. Ini karena banyak mesjid di Indonesia menjalankan mesjid di jaulah pertama tapi jaulah keduanya tidak. Kalau di perancis mereka menggunakan cara misalnya ada 8 orang di mesjid jaulah pertama, maka semuanya akan bergerak bersama-sama. Tetapi kalau jaulah kedua di perancis ini, yang 8 orang dibagi 4 rombongan dibagi per 2 orang untuk jaulah kedua. Di perancis karena jarang mesjid maka caranya mereka gelar tikar dibawah pohon, lalu waktu adzan mereka jaulah ke flat-flat. Alhamdullillah mereka yang ditaman dan dijalan-jalan, mereka berdatangan, mendengar bayan. Para taskilan, mereka dibawa kebawah pohon seperti piknik untuk di iqrom. Waktu sholat berjamaah mereka berbondong-bondong ikut sholat dibawah pohon. Mereka terus menerus sholat dibawah pohon akhirnya Allah ubah keadaan sehingga kini mesjid bertambah menjadi ribuan mesjid. Sekarang total kurang lebih mesjid di perancis ada 3500 mesjid.

Pernah dulu raja Arab Saudi, raja Faisal ketika itu mengajukan proposal kepada pemerintahan perancis untuk mendirikan mesjid karena susahnya dia nyari mesjid untuk sholat. Mendapat tawaran itu presiden perancis konsulasi dengan para pendeta gereja saat itu untuk menyikapi proposal raja Arab. Mereka membalas surat ke Raja Arab ketika itu yang isinya kalau mereka diperbolehkan mendirikan gereja di mekah, maka raja Faisal diperbolehkan membangun mesjid di Perancis. Mendapat jawaban seperti itu Raja Faisal membatalkan niatnya untuk membangun mesjid. Setelah dengan jalan kekuasaan pemerintah untuk menegakkan agama dengan membangun mesjid tidak mampu dilaksanakan. Namun, alhamdullillas asbab kerja dakwah yang dilakukan dengan cara diam-diam, kini mesjid ada dimana-mana di perancis. Di tahun 1960 an di perancis hanya ada 1 mesjid, kini tahun 2009 jumlah mesjid ada ± 3500 mesjid. Ini kelebihan pemerintahan perancis, hak azasi sangat dihargai bagi warga negara sana.

Suatu ketika di salah satu kota perancis ini ketika adzan dikumandangkan, warga non muslim protest, sehingga diangkatlah kasus ini ke pengadilan. Pengacara orang islam ini pintar, mereka berargument kalau memang mereka terganggu karena suara adzan seharusnya mereka lebih terganggu lagi sama suara bising pesawat di airport, karena lokasinya sangat dekat dengan airport. Jadi kalau memang mau ditetapkan seperti itu maka seharusnya airportpun juga di tiadakan. Akhirnya umat islam menang di pengadilan bisa diterima secara akal. Kalau misalnya mereka tidak suka bising bukannya airport yang digusur tapi merekalah yang harus pindah jauh dari Airport. Begitu juga dengan suara adzan kalau memang tidak suka dengan suara adzan yang tidak seberapa jangan di larang adzannya tapi merekalah yang harus pindah. Alhamdullilah akhirnya yang non muslim pada pindah, dan yang islam pindah kedaerah itu. Demikanlah dengan mujahaddah ini Allah berikan kemudahan-kemudahan.

Juga sudah banyak bukti banyak orang-orang masuk islam asbab Akhlaq. Banyak laki-laki di perancis ingin mencari wanita-wanita islam, karena wanita islam ini taat dan tidak khianat kepada suami. Jadi kalau kita terus bermujahaddah di jalan dakwah ini maka nanti akan datang orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Seperti dijaman Sahabat RA, bahwa orang-orang akan berbondong-bondong masuk islam ketika umat islam sudah sempurna agamanya : Iman nya betul, Ibadahnya Betul, Muamalahnya Betul, Muasyarohnya betul, dan Akhlaqnya betul. Orang yang hidup di luar agama ini hidupnya tidak ada kebahagiaan hanya sangkaannya, kelihatannya bahagia, padahal rohaninya kosong. Memang betul secara dzohiriyah mereka maju dari makanannya, pakaiannya, transportasinya, rumahnya, namun secara rohaniat mereka kosong dan gersang hatinya. Padahal mereka cukup makan uang ada, dan pakaian banyak, tapi tiap hari mereka bengong saja, sehingga untuk menghilangkan kekosongan dan kesusahan dalam hatinya ini akhirnya mereka buat kebiasaan fly atau mabuk-mabukan agar bisa senang. Seharusnya keadaan mereka ini jangan kita benci tapi harus dikasihani, karena sesungguhnya dengan kehidupan seperti itu kehidupan mereka seperti tinggal menunggu adzab saja. Walaupun hidup mewah dan nyaman tapi jika mati tidak membawa iman maka mereka akan di azab selama-lamanya. Kita yang bertanggung jawab atas mereka ini. Dakwahkan agama, Kita bersusah payah datang kepada mereka. Asbab kerisauan kita ini kepada mereka maka Allah akan bukakan mata hati kita, nanti Allah beri kepahaman. Jika mata hati kita menyanyangi umat, maka Allah akan sayang kepada kita.

Mahfum Hadits :
“Irhamu ma fil ardhi yarhamu suma fissama” Artinya : “Kamu kasihani apa yang ada di muka bumi maka ahli langit akan kasih kepada kamu”

Bukannya kita gunjingi atau diperangi mereka, tetapi justru harusnya kita kasihani mereka, kita dakwahkan mereka menyampaikan Kalimat Tauhid. Mereka ini adalah tanggung jawab kita. Agama Islam ini bukan untuk orang islam saja tapi untuk semua manusia.
Allah berfirman :

Innadeena Indallahiil islam : Agama yang diterima oleh Allah hanya Islam
Selain islam tidak akan diterima, dan Allah ini bukannya tuhan untuk umat islam saja tapi Allah ini Rabbunnaas, Tuhan seluruh manusia, bahkan Rabbul Alamin, Tuhan seluruh alam. Dan Nabi Muhammad SAW bukan hanya nabi untuk umat islam saja tetapi untuk seluruh umat manusia.
Allah berfirman :

Wama arsalnaka illa kaffatan linnas : Kami tidak utus engkau Muhammad melainkan untuk seluruh manusia

Begitu juga Al Quran bukan kitab suci bagi umat islam saja, tapi Hudallinnaas, petunjuk bagi seluruh manusia, bukan huda lilmuslimin, petunjuk bagi muslim saja. Sekarang siapa yang mau bertanggung jawab atas umat pada hari ini, yang sebagian besar tidak kenal pada Allah, tidak kenal pada Nabi Saw, tidak kenal pad Al Quran, sedangkan Nabi sudah tidak akan datang lagi. Ini semua adalah tanggung jawab kita untuk menyampaikan ini kepada mereka. Manusia dalam kecelakaan besar, Kalau kita mati tidak ada harta, tidak ada pakaian, tidak ada rumah, ini tidak bahaya selama ada iman, namun jika mati dalam keadaan tidak beriman maka mereka akan disiksa selama-lamanya. Kita harus melanjutkan fikir Nabi Saw dan usaha Nabi Saw. Kita memang bukan Nabi atau Rasul namun Allah muliakan kita dengan mewariskan usaha kenabian kepada ummat ini untuk dilanjutkan.

Jangan kita kecil hati bahwa kita ini lemah banyak kekurangan sementara penduduk manusia miliaran bagaimana mungkin ? Kita harus ambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Namrud Laknatullah Alaih, ada seekor burung kecil bawa air di paruhnya terbang tinggi diatas apinya membawa air bolak balik agar api padam. Malaikat bertanya, “Apa yang kamu kerjakan wahai burung ?” burung menjawab, “sedang berusaha memadamkan api yang membakar kekasih Allah, ibrahim AS.” Malaikat bilang apa manfaatnya membawa air sedikit itu untuk mematikan api yang demikian hebat, belum sampai ke api sudah menguap. Kata burung biar saja tidak apa-apa, yang penting kata burung nanti di akherat ketika Allah bertanya kepadanya, “Wahai Burung adakah kamu menyaksikan kekasihku dibakar, lalu apa yang kamu lakukan ?” Maka aku akan menjawab, “Ya Allah aku hanya bisa membawa sedikit air saja di paruh aku menurut kemampuanku saja, mudah-mudahan dengan amalku yang sedikit ini bisa diterima.” Jadi jangan lihat besar kecilnya dunia kita tapi lihatlah seberapa kemampuan kita. Allah tidak melihat hasil dalam usaha agama ini tapi yang dilihat oleh Allah Swt adalah usaha kita. Nabi Nuh AS 950 tahun dakwah siang malam tapi yang dapat hidayah cuman 80 orang saja, tapi Nabi Nuh AS tidak dianggap gagal oleh Allah SWT. Walaupun dilempari batu tapi usahanya tidak berhenti. Maka Insya Allah kita niatkan ambil bagian dalam Takaza Agama ini.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fixed Deposit Calculator